CeritaSemi - Ngetot Di Dalam Mobil - Saya berharap semua semakin lebih baik sesudah saya mengambil keputusan hubunganku dengan Vina tunanganku, tetapi nyatanya tidak saya masih tetap mencintainya. Sampai tidak gampang bagiku bagi melupakan sosoknya, kadang-kadang saya berfikir mengapa saya mesti menuruti kemarahanku bila pada akhirnya saya bakal jadi ini, seperti orang yang kehilangan pegangan hidup saya seringkali keluar masuk tempat hiburan.
Karna saya sangka begitu saya bisa melupakan sosok Vina, yang sudah saya putusan karna memandangnya tengah mengobrol dengan seseorang cowok di cafe tempat kami umum makan maupun sebatas hunting di sana. Namun hari itu kami tengah tak ada janji serta akupun pergi ke sana dengan rekanku waktu memandangnya akupun tersulut emosi terlebih dimuka rekanku yang tahu bila Vina tunanganku namun dengan cowok beda.
Pada akhirnya saya berlaku kasar kepadanya, saya tidak memberi dia peluang bagi menerangkan. Saya permalukan Vina dimuka beberapa orang saya lupa bila wanita ini sudah memberi semua padaku, bahkan juga kami telah sempat lakukan adegan seperti dalam narasi seks. Masih tetap saya ingat pertama kalinya kami lakukan Vina menangis karna sudah memberi kehormatanya padaku.
Baca Juga : CeritaSemi - SPG Mulus Sukai Ngesex
Rasa cemburuku sangat besar di waktu itu juga saya memutuskannya dimuka beberapa orang. Saya tidak mengubernya saat dia menangis, saya telah termakan egoku bagi mengalah. Sampai saat ini penyesalan yang berlangsung, bagi memohon maafpun telah tidak dapat karna Vina telah tak akan tinggal dirumah orang tuanya dia pilih bagi meninggalkan kota ini.
Bahkan juga saat berkali-kali saya bertanya kehadiran Vina semua keluarganya setuju bagi tutup mulut. Akupun sadar bila saya telah demikian kasar memperlakukannya dimuka umum saat itu. Saat ini usiaku telah masuk 28 th. sesungguhnya saya telah mengambil keputusan bagi menikah th. ini dengannya namun semuanya hancur, masih tetap saya ingat saat dia menyebutku dengan lembut “Mas Robby”.
Hari ini pas 8 bln. kami berpisah banyak yang katakan bila penampilanku saat ini berantakan dengan kumis serta jenggot yang saya biarlah tumbuh “Mas ada teman anda dimuka.. ” Nada adikku di pintu kamarku “Siapa dik…” Namun dia telah keburu pergi demikianlah adikku sendiri tidak ingin sekali lagi dekat-dekat denganku, dahulu dia demikian dekat degan Vina bahkan juga mereka tampak seperti saudara sendiri.
Nyatanya ada Dani rekanku “Hei sob.. kelihatanya anda masih tetap serupa.. ayolah Robby anda mesti move on” Dia coba memberi keterangan padaku namun saya tidak mendengarkannya walau telah panjang lebar dia bicara padaku, hingga pada akhirnya Dani memberi saya undangan pernikahannya makin trenyuh hatiku lihat undangannya terlebih Dani menikah dengan rekanku juga Bella.
“Gua berharap lu datang sob.. banyak kawan-kawan yang gua undang” Namun tetaplah saja saya terasa ada yang sakit dalam hati, sampai pada akhirnya Dani pamit pulang. Pernikahannya satu minggu sekali lagi saat saya baca dalam undangan itu, akupun kembali pada club malam bagi melupakan masa lalu itu tetapi hingga detik ini saya belum juga sempat lakukan jalinan intim seperti dalam narasi seks walau banyak gadis penghibur yang siap saya bawa di club ini.
Saya demikian menyukai Vina serta saya betul-betul menyesal, sampai pada akhirnya pernikahan Danipun tiba. Saya datang dengan satu diantara rekanku yang rekan Dani, Farhan namanya demikian kami hingga akupun masuk kedalam tanpa ada memerhatikan yang beda. Saya tahu bila saya jadi fokus perhatian, dahulu saya demikian gagah serta termasuk juga cowok cakep diantara yang beda namun saat ini badanku terlihat lebih kurus.
Belum juga pesta selesai waktu saya akan ambil minum, karna pesta yang digelar pernikahan Dani yaitu garden party jadi tiap-tiap tamu yang terasa kurang suatu hal bisa ambil sendiri. Waktu tersebut saya lihat sosok yang sampai kini saya rindukan “Vina…. ” Kataku namun diapun pergi serta saya tak akan buang peluang saya kejar Vina sampai ditempat parkir dia masuk dalam mobilnya.
Aku pun tidak meyakinkan berturut turut agar masuk dalam mobilnya “Sudaah Robby anda keluar sana.. ” Teriak Vina padaku namun saya secara cepat segera memeluknya “Maaf Vin.. maaaf… aaaaku… maaf.. ” Tidak bisa sekali lagi saya berkata pada akhirnya saya cuma memeluknya dengan erat, cukup lama saya membuatnya bagi tidak geram sekali lagi padaku hingga pada akhirnya diapun mengajakku pergi dari tempat itu.
Terlebih kami jadi fokus perhatian saja, sepanjang dalam perjalanan Vina terdiam saya yang awalannya tidak berhenti menyebutkan kata maaf pada akhirnya turut terdiam juga. Hingga kamipun ada di lokasi pantai “Ayo cepat terangkan mas.. mas Robby ingin ngomong apa.. Vina ingin pulang.. ” Tuturnya memecahkan kesunyian diantara kami. Tanpa ada fikir panjang akupun memeluknya lantas saya kecup bibirnya.
Saya tahu bila diapun masih tetap mencintaiku dengan penuh gairah Vina melumat bibirku juga “Aaaaagggghh… eeeeuuummmccchhhh… aaaaggggghhhh.. eeeeuuuuummmmcccchhhh… aaaagggghhh…” Dia pejamkan matanya sembari menjambak rambutku sampai kusut, akupun melumat habis bibirnya saya luapkan semuanya kerinduanku kepadanya. Saya peluk badan Vina tanpa ada melepas bibirku.
Bahkan juga tanganku lebih berani menggerayangi badannya, mungkin saja karna kami telah sempat lakukan adegan seperti dalam narasi seks “OOOoouuuggghhhh… aaaaggggghh…. sayaaaaang… aaaaaggggghhh…. aaaaggggghhh….. aaaaagggggggghhhh…. ” Vina kelihatannya telah mengharap lebih, dia pasrah saat tanganku masuk dalam pakaiannya serta meremas sisi buah dadanya.
Diapun menggelinjang “Ooouugggggghhhh… mas… Robbyyyy…. aaaagggghhh… aaaaggghhh… aaaagggghh… akuu kangeeeen maaassss… aaaaaggghhhh…” Rupanya Vina juga tidak bisa memendam gairahnya diapun naik ke atas badanku serta dengan tempat seperti menempati saya, dengan sigap juga saya acungkan kontolku sampai diapun dengan mudahnya memasukkan kontolku dalam memeknya.
“OOoouuuggghh… aaaagggghhh… aaaaagggghhh… aaaaggghh…. maaas… aaaggghhh…” Vina bergerak turun naik walau tidak leluasa namun cukup untuk kami menikmatinya, akupun memegang ke-2 pinggul Vina dengan membantunya brgerak di atas badanku, yang sedikit duduk sembari agak rebahan diatas jok mobil. Vina selalu bergerak buat akupun nikmati tiap-tiap pergerakannya.
Kontolkupun tidak bisa mengontrolnya mungkin saja karna telah lama tidak lakukan jalinan intim ini “OOOOuugggghh… Vinnn… aaaaakkkhhhhh…. aaaaaaku… aaaaaagggghh…. aaaggggghhhh…” Waktu itu juga sperma mengalir dari dalam kontolku, sedang Vina masih tetap berupaya menjangkau klimaks namun saya telah meraihnya lebih dahulu, ingin pastinya.
Namun saya tahu dia tidak ingin memberikan kekecewaanya padaku, dia berhenti bergerak namun dengan lembut dia menatapku serta mengelus wajahku “Vina kangen mas Robby…” Saya tidak menjawabnya namun saya tatap dia dengan tajam, bahkan juga karena sangat tidak yakinnya bila waktu itu yaitu Vina kembali saya memeluknya dengan erat. Sampai Vina teriak bila dia tidak bisa bernafas, kamipun tertawa.

No comments:
Post a Comment